Sabtu, 28 Juli 2012

Mengenal Differential Locker

Differential Locker, sesuai namanya, mengunci gerakan as roda kiri dan kanan secara simultan. Ada 2 jenis differential locker (selanjutnya disebut locker saja) yang dibedakan oleh cara pelepasan pengunciannya yaitu yang pertama adalah Automatic Locker dan yang kedua adalah Selectable Locker. Masing masing jenis tersebut masih terbagi lagi menjadi beberapa tipe.

Jenis pertama adalah Automatic Locker, dimana operasi pelepasan penguncian diferensialnya didasarkan oleh perbedaan putaran saat gardan tidak menerima torsi. Sesuai namanya, differensial benar benar dikunci secara 100%. Automatic Locker sendiri ada 2 macam yaitu tipe light duty dan heavy duty. Untuk tipe light duty, pada sistem diferensial yang digantikan hanya bagian tengah (satelite gear dan side gear) sedangkan untuk kerangka diferensial tetap menggunakan bawaan mobil. Masuk dalam kategori ini adalah EZ Locker, Tractec Lockright dan lainnya. Tipe light duty ini oleh pabrik pembuatnya hanya direkomendasi untuk penggunaan ban hingga diameter 32 inchi. Sementara untuk tipe heavy duty, perangkat diferensial diganti keseluruhan. Hanya crown gear saja yang dipindahkan dari gardan bawaan mobil. Tipe ini dikeluarkan oleh Detroit Locker, dan tipe ini tidak memiliki limitasi ukuran diameter ban.

Di dalam sebuah locker otomatis terdapat 2 gigi yang menempel satu sama lain menggantikan sistem diferensial. Ketika berjalan lurus, kedua poros roda bergerak secara bersamaan. Ketika berbelok dan tidak ada torsi yang disalurkan oleh tranfercase ke gardan, roda yang menjadi titik pusat putaran (roda sebelah dalam lingkaran belokan) akan berputar lebih sedikit dari roda bagian lainnya. Sebagai contoh, mobil akan berbelok ke kiri. Ketika berbelok, roda sebelah kiri akan berputar lebih sedikit dari sebelah kanan, hal ini juga menyebabkan gigi locker sebelah kiri akan berusaha memisahkan diri dari gigi locker sebelah kanan, dengan dibantu release spring yang berada di bagian dalam dari kedua gigi locker tersebut, maka poros roda kiri akan terpisah dari poros roda kanan. Hal ini akan terus berlangsung hingga poros kanan dan poros kiri berputar dengan putaran yang sama dan kedua bagian gigi locker tersebut akan menempel kembali. Namun apabila mobil berbelok dengan gardan tetap menerima torsi dari transfercase (mobil berbelok tanpa mengangkat pedal gas pada kecepatan tinggi), antara gigi locker kiri dan kanan tidak akan bisa melepaskan diri sehingga akan timbul gejala ‘ngepot’. Hal ini terjadi karena kedua gigi locker tersebut tidak mendapatkan momen yang cukup untuk memisahkan diri sehingga akan terus menerus bergerak dengan putaran yang sama cepat sehingga ketika berbelok roda akan terseret dengan arah yang berlawanan dengan arah belokan.

Jenis locker yang kedua adalah Selectable Locker, atau locker yang dapat diaktifkan atau di-non aktifkan sesuai dengan kebutuhan pengemudinya. Jenis ini memiliki beberapa tipe yang dibedakan dengan metode aktivasi locker tersebut. Tipe pertama proses aktivasinya menggunakan kabel baja hingga kerap disebut cable locker. Tipe ini dapat ditemui pada kendaraan Toyota Land Cruiser seri 40 dan seri 60, untuk aftermarket yang menyediakan tipe ini adalah OX Locker. Tipe kedua proses aktivasinya menggunakan motor elektrik yang menempel pada casing gardannya. Tipe ini kerap disebut electrik locker dan ditemui pada Toyota Land Cruiser seri 80 dan Toyota Hilux. Tipe yang ketiga proses aktivasinya menggunakan angin yang dihasilkan oleh sebuah pompa, hingga kerap disebut air locker. Produk yang menganut sistem ini adalah ARB Air Locker. Namun secara umum, ketiga tipe ini memiliki cara kerja penguncian dan pelepasan yang kurang lebih sama, yaitu mengunci kedua poros roda secara manual oleh si pengemudi.

Di dalam sebuah selectable locker, terdapat 2 gigi dapat yang saling bertautan pada saat posisi lock. Salah satu gigi tersebut dapat bergeser untuk menentukan posisi diferensial terkunci atau terbuka. Untuk proses pergeseran gigi untuk mengunci diferensial kanan dan kiri inilah yang dilakukan oleh ketiga tipe yang disebut lebih tadi. Apabila tidak dibutuhkan, pengemudi dapat melepas kuncian diferensial sehingga kendaraan dapat dikemudikan seperti layaknya mobil yang tidak dilengkapi dengan pengunci diferensial. Sementara ketika diferensial dalam posisi terkunci, tabiat mobil seperti layaknya mobil yang sistem diferensialnya mengalami pengelasan, terkunci 100% setiap saat. Keuntungan dari selectable locker yang lain adalah, pengemudi dapat memilih untuk mengunci atau melepas diferensial sesuai dengan medan yang akan dilaluinya, sehingga pengemudi dapat mengendalikan kendaraannya dengan lebih akurat.

Tentang Locker dalam 4WD

Locking Differential


Alat ini berfungsi untuk mengunci gerakan as roda poros sebelah kiri dan sebelah kanan. Hal ini diperlukan saat kondisi dimana traksi pada kedua roda dibutuhkan untuk melewati sebuah medan yang licin. Ada 2 macam cara penguncian sistem diferensial, pertama adalah Limited Slip Differential, kedua Differential Locker. Kedua macam metode penguncian diferensial memiliki pola penguncian yang berbeda. Gardan yang dilengkapi dengan Limited Slip Differential pada kondisi normal, diferensial ada pada posisi open sehingga pengendalian kendaraan tidak berbeda dengan kendaraan yang memiliki gardan tanpa pengunci diferensial. Karena sifat inilah, LSD banyak dipilih menjadi optional atau juga menjadi kelengkapan standar kendaraan yang didesain untuk bekerja di medan yang cukup berat. Sementara gardan yang dilengkapi dengan automatic differential locker dalam kondisi normal, diferensial ada pada posisi lock sehingga cara mengendarai mobil yang dilengkapi dengan piranti tersebut berbeda dengan mobil ‘normal’. Selanjutnya akan dikupas lebih lanjut pada paragraf berikut.

Limited Slip Differential

Sistem pertama, sesuai dengan namanya, mengunci poros roda kiri dan kanan berdasarkan beda putaran yang terjadi pada poros kiri dan kanan. Penguncian pada Limited Slip Differential (LSD) tergantung dari settingan awal dari pabrik pembuatnya, dilambangkan dengan prosentase, biasanya berkisar antara 70% sampai 90%. Prosentase tersebut melambangkan perbedaan putaran kiri dan kanan maksimum sehingga piranti LSD mengunci putara kedua poros roda.

Di dalam sebuah LSD, terdapat rangkaian plat kopling yang mengembang ketika beda putaran yang diset tercapai. Sebagai contoh, apabila roda kiri kehilangan traksi sehingga berputar hingga 80% lebih cepat dari roda sebelah kiri, rangkaian plat kopling di dalam LSD akan mengembang. Saat rangkaian kopling tersebut mengembang, lalu mendorong sleeve dan masuk ke ujung as roda sehingga poros kanan dan poros kira bergerak satu arah secara bersamaan. Mengembangnya rangkaian kopling tersebut akan terus terjadi selama torsi mesin diberikan secara konstan pada gardan. Ketika torsi ke arah gardan dihilangkan, otomatis rangkaian plat kopling mengendur dan melepas penguncian antara poros roda kiri dan kanan. Agar dapat bekerja secara maksimal, LSD membutuhkan oli gardan yang khusus dibuat untuk keperluannya. Bila tidak menggunakan oli yang dibuat khusus LSD, ketika rangkaian kopling mengembang, gesekan atau friksi antara plat kopling tidak terjadi sehingga LSD gagal mengunci poros roda kiri dan kanan.

FreeLock dalam 4 Wheel-Drive

Nama lengkap dari alat ini adalah Free Wheel Hub. Dari namanya kita bisa mengambil kesimpulan awal adalah alat untuk melepas hub roda. Free Wheel Hub atau yang lebih tenar dengan nama Free Lock (diambil dari tulisan yang tertera pada face plate benda tersebut) berguna untuk ‘mengisolasi’ as roda dari gerakan hub roda yang berputar bersamaan dengan berputarnya roda kendaraan.

Mengapa as roda harus diisolasi dari gerakan hub roda? As roda yang ikut berputar akan mengakibatkan bertambahnya benda yang bergerak seiring jalannya roda, yang mana sedikit banyak hal ini akan berpengaruh pada konsumsi BBM dan panjangnya umur as roda itu sendiri. Dengan mengisolasi gerakan hub roda dari as roda juga berakibat umur telapak ban sedikit lebih awet, dikarenakan roda berputar dengan beban yang lebih ringan sehingga dapat lebih bebas bergerak dan antara poros kiri dan poros kanan benar benar terputus hubungannya.

Di dalam freelock terdapat 2 buah gigi, gigi yang pertama (gigi A) menempel pada body freelock, sedangkan gigi yang kedua (gigi B) berada di dalam gigi yang pertama dan bagian dalamnya menempel pada as roda. Pada posisi “Free”, gigi A terpisah dari gigi B, Gigi A didorong oleh sebuah per agar kedua gigi tersebut tidak berhubungan (gigi A terdorong mendekati face plate). Ketika freelock dipindah ke posisi “Lock”, face plate dari freelock mendorong gigi A kebawah sehingga gigi B berada di dalam gigi A. Dengan terhubungnya gigi A dan gigi B, bodi Freelock yang menempel pada hub roda terhubung dengan as roda sehingga poros roda depan dapat diputar oleh as roda depan ketika posisi transfercase dipindahkan ke 4H atau 4L.

Freelock sendiri memiliki 2 macam, yaitu freelock manual dan freelock automatic. Cara kerja kedua tipe ini sama, hanya metode pengunciannya saja yang berbeda. Untuk freelock manual, posisi “Lock” dan “Free” dapat dipindah dengan cara memutar tuas pada face plate Freelocknya, tentunya sebelum mengaktifkan sistem gerak 4 roda, freelock tersebut harus diaktifkan terlebih dahulu.

Untuk freelock automatic (selanjutnya disebut freelock matik), penguncian dilakukan oleh alat yang dapat mendeteksi adanya torsi yang tersalur pada as roda depan. Ketika gerak 4 roda diaktifkan, as roda depan akan berputar dan menimbulkan gaya torsi. Gaya inilah yang ditangkap oleh sensor freelock matik terebut sehingga langsung menurunkan gigi A sehingga posisi gigi B berada di dalam gigi A. Untuk menonfungsikan freelock tersebut, pindahkan tuas transfercase ke posisi 2H, lalu mundurkan mobil beberapa meter, otomatis freelock tersebut akan berpindah ke posisi “Free”.

Kerugian dari freelock matik ini, ketika kendaraan melalui jalan turunan panjang yang terjal, ketika torsi pada as roda depan hilang karena posisi pedal gas diangkat, sensor torsi tidak dapat mendeteksi adanya torsi pada roda depan sehingga dapat tiba tiba melepas kuncian pada hub roda depan, tentunya hal ini berbahaya karena pada traksi pada roda depan bisa hilang dengan tiba tiba. Untuk menyiasatinya, ketika melalui turunan model tersebut, mobil tetap harus di gas sedikit agar sensor freelock dapat tetap mendeteksi torsi pada as roda depan.

Selain yang memiliki sensor torsi ini, ada lagi jenis Freelock pneumatik, yaitu operasi penguncian dan pelepasannya mengandalkan tiupan angin yang dihasilkan oleh sebuah katup pneumatik. Ketika tuas transfercase dipindah ke posisi 4H atau 4L, sebuah switch yang terhubung dengan katup pneumatik tersebut membuka katup tersebut dan tiupan udara akan tersalur pada freelock dan mendorong gigi A untuk terhubung dengan gigi B.

Selain jenis jenis diatas, ada lagi alat yang fungsinya mirip dengan Freelock, yaitu ADD (Automatic Disconnecting Differential). Alat tersebut berada diantara as roda dengan differensial gardan depan. Di dalam alat tersebut terdapat sebuah sleeve yang bisa bergeser sesuai dengan perintah dari tuas transfercase. Ketika tuas transfercase dipindah ke posisi 4H dan 4L, sebuah switch akan memberikan perintah kepada katup pneumatik untuk membuka dan meniupkan udara untuk menggeser sleeve di dalam ADD sehingga as roda depan tersambung dengan sistem diferensial depan dan as roda depan dapat berputar sesuai dengan putaran gigi diferensial.

FOUR WHEEL DRIVE

Beberapa waktu yang lalu, saya sedang mengikuti coaching clinic dari seorang offroader kawakan yang sudah tidak diragukan lagi jam terbang dan kemampuannya. Melalui tulisan kali ini, saya ingin menyajikan ulang uraian beliau, dalam bentuk tips-tips ringan bagi anda yang memiliki mobil berpenggerak empat roda atau banyak disebut dengan istilah four wheel drive, 4×4, 4WD dan istilah lainnya yang memiliki arti sama.

Sebelumnya, apa sih sebenarnya penggerak empat roda itu? Umumnya mobil digerakkan oleh dua roda saja, bisa depan atau belakang. Maka mobil jenis ini bisa disebut sebagai two wheel drive, 4×2, 2WD. Tetapi ada mobil yang pada saat kondisi jalan normal (aspal/permukaan jalan yang keras), digerakkan hanya oleh dua roda saja dan pada saat akan melintasi permukaan jalan yang licin, dua roda lainnya dapat difungsikan sebagai penggerak tambahan untuk membantu mobil tetap dapat bergerak maju ataupun mundur.

Saat ini saya hanya akan mengulas mengenai mobil berpenggerak empat roda yang digerakkan oleh roda belakang saat kondisi jalan normal dan memiliki rasio gigi tinggi dan rendah pada penerus dayanya. Mungkin selama ini anda sudah memiliki sebuah mobil 4WD, tapi masih belum pernah atau jarang menyentuh tuas transfer yang bertuliskan 2H-4H-N-4L, di beberapa mobil lain bisa bertuliskan H2-H4-N-4L diubah jadi H2-H4-N-L4 atau mungkin H-N-L dan masih banyak lagi macam skemanya.
  • 2H adalah posisi dimana seharusnya tuas ini berada, disaat kita selalu berkendara di dalam kota dengan jalan aspal/permukaan jalan yang keras.
  • 4H adalah posisi tuas yang digunakan saat mobil akan mulai melintasi permukaan jalan yang kurang baik seperti tanah basah/lumpur dan licin yang menyebabkan roda mobil slip karena kurangnya traksi dan dapat juga digunakan di permukaan jalan yang keras tetapi sangat buruk permukaannya.
  • N adalah posisi dimana tidak ada tenaga yang tersalurkan ke roda. Pada posisi ini, walaupun gigi transmisi dimasukkan ke 1 atau R, mobil tidak akan bergerak.
  • 4L adalah posisi yang digunakan saat mobil akan melintasi tanjakan yang sangat tinggi ataupun jalan menurun yang curam dan saat melintasi genangan air. Dengan menggunakan 4L, mobil anda akan bergerak lebih lambat tetapi memiliki tenaga tarik yang lebih besar dan akan memberikan efek pengereman mesin yang lebih kuat saat akan menuruni turunan curam. Dapat juga digunakan saat mobil akan melintasi lumpur yang dalam ataupun medan berpasir seperti pantai. Pada posisi 4L ini, kecuali turunan curam, gigi 1 nyaris jarang digunakan, pakailah posisi gigi 2 atau 3 karena pada gigi 1 akan terjadi kelebihan tenaga yang tidak perlu dan dapat menyebabkan roda slip.
Pastikan sebelum anda melintasi jalan, genangan atau rintangan, lakukan aturan dasar stop and look, yaitu berhenti dan survei dulu medan yang akan dilalui. Dengan begini anda sedapat mungkin dapat mengurangi atau menghindari bahaya atau resiko yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, sebelum anda menuju ke puncak tanjakan, sebaiknya berjalan kaki dan lihat ada apa di balik tanjakan, bisa jadi ada belokan yang harus anda antisipasi atau mungkin justru malah ada jurang di balik tanjakan itu. Juga sebelum melintasi air, jajaki dulu permukaan yang ada di bawah air, tandai mana lubang dan mana batu supaya mobil anda tidak terperosok atau tersangkut saat sedang berjalan.

Saat melintasi air, pastikan dulu kedalaman airnya, jangan sampai anda hanya merusak dan menenggelamkan mobil anda karena mobil anda mogok ketika saringan udara menyedot air dan merusak mesin, pastikan ketinggian air tidak melebihi batas bawah lampu depan anda dan majulah dengan kecepatan konstan yang tidak terlalu tinggi (pakailah gigi 2 dan 4L) supaya ruang mesin tetap aman dari serbuan air dan ombak air tidak merambat sampai keatas kap mesin.

Demikian pula saat anda menemui alur air atau bekas aliran air saat anda akan menanjak, jangan masukkan roda mobil anda ke alur air tersebut, tetapi berpijaklah di tempat yang lebih tinggi sehingga kolong mobil anda tidak tersangkut. Tetapi bila jalan menurun, masukkan roda mobil anda ke alur air tersebut dan gunakan alur air seperti sebuah rel yang akan membawa mobil anda turun dengan aman. Tapi pastikan kearah mana alur air itu menuju, jangan sampai anda salah memilih alur air yang mengarahkan mobil anda ke jurang. Untuk tanjakan dan turunan, gunakan gigi transmisi dan transfer yang sesuai dengan medan, pilih antara gigi 1 atau 2 dikombinasi dengan 4L.

Pasir, mungkin suatu kali anda sedang berlibur ke pantai bersama keluarga dan ingin mencoba kehandalan mobil anda di atas lautan pasir pantai. Gunakan gigi 2 dan 4L selama anda berkendara di pasir dan jika anda ingin berbelok, maka janganlah membelok dengan setir patah atau radius putar kecil karena ini hanya akan menghambat mobil anda, beloklah dengan radius putar yang besar tetapi mobil masih bisa berjalan. Apabila ban mobil anda slip, maka yang terjadi adalah ban akan menggali pasir dan membuat mobil anda terjerembab semakin dalam. Apabila slip terjadi segera stop, jangan paksa mobil untuk maju lagi. Salah satu hal yang bisa membuat mobil anda keluar adalah mundur dengan menginjak jejak ban yang sudah anda buat tadi.

Untuk jalan yang berlumpur, mengemudilah selalu dengan tenang dan jangan menaikkan kecepatan terlalu tinggi, karena medan ini biasanya amatlah licin dan mobil akan sulit untuk dikendalikan walau sudah memakai penggerak empat roda. Gunakan gigi transmisi dan transfer yang sesuai dengan medan berlumpur yang akan dilalui. Mungkin tidak semua hal dapat dijelaskan dalam tulisan ini, karena dalam medan offroad hanya dengan mencoba maka anda akan mendapatkan pengalaman dan tips unik yang berharga. Gunakan gigi 2 atau 3 dikombinasi dengan 4L atau bisa juga gunakan gigi 1 atau 2 dengan 4H jika medan berlumpurnya tidak terlalu berat.

Oh ya, pastikan free lock hub mobil anda sudah dalam posisi Lock atau 4×4 saat anda memang betul-betul membutuhkan penggerak empat roda, karena jika masih dalam posisi Free atau 4×2, roda depan tidak akan berputar walau gigi transfer sudah dimasukkan. Terakhir, ajaklah selalu keluarga, rekan atau teman yang sudah berpengalaman saat akan melintasi medan offroad dan jangan sekali-kali meremehkan kondisi alam ataupun medan yang akan dilalui.

Komponen Cooling System

Salah satu faktor yang mendukung panjangnya umur pakai dari mesin adalah terjaga baiknya kondisi Cooling System atau sistem pendingin mesin. Terutama untuk mesin diesel yang bekerja pada rasio kompresi yang sangat tinggi sehingga panas mesin merupakan hal yang krusial dalam kestabilan operasinya. Seperti yang kita tahu, mesin diesel pada aplikasi otomotif memakai air sebagai medium pendingin, dimana air ditampung di dalam radiator dan dibantu oleh water pump atau pompa air sebagai perangkat pembantu sirkulasinya.

Secara garis besar komponen sistem pendingin yang utama antara lain adalah:
  • Radiator sebagai penampung air sebagai medium pendingin dan perangkat pelepas panas medium pendingin.
  • Waterpump atau pompa air sebagai perangkat distribusi sirkulasi medium pendingin
  • Cooling fan
  • Thermostat sebagai pengatur sirkulasi medium pendingin.
  • Selang air sebagai pengalir sirkulasi air diluar water jacket.
  • Water jacket atau alur air di dalam blok mesin sebagai jalur sirkulasi medium pendingin dalam tugasnya menjaga temperatur kerja mesin.
  • Fan Shrout
Masing masing komponen sistem tersebut memiliki ketergantungan dan menjadi satu kesatuan yang utuh agar temperatur kerja mesin dapat terjaga.

Fungsi Thermostat

Sistem sirkulasi sistem pendingin mesin dengan medium air adalah sebagai berikut: Ketika mesin baru akan dihidupkan (biasanya di pagi hari), suhu air pada radiator berkisar pada suhu ruang yaitu sekitar 23 C. Ketika mesin dinyalakan, air yang berada di dalam blok mesin bersirkulasi dengan bantuan waterpump melewati selang by-pass tanpa melewati radiator.

Mengapa tidak melewati radiator? Itu dikarenakan lubang air menuju radiator masih ditutup oleh termostat, sementara itu lubang by-pass yang letaknya berseberangan dengan lubang menuju radiator terbuka memungkinkan waterpump mengalirkan air yang keluar dari blok mesin untuk kembali masuk ke dalam blok mesin untuk mendinginkan silinder, oil cooler dan cylinder head. Mengapa dibuat demikian? Fase ini disebut sebagai fase pemanasan dimana air yang bersirkulasi di dalam blok mesin sengaja tidak di dinginkan agar suhu kerja mesin, berkisar di 85-90 C cepat tercapai.

Ketika mesin mencapai suhu kerja, temperatur air pada sistem sirkulasi fase pendinginan pun naik hingga 85-90 deg.C. Ketika air dengan temperatur tersebut sampai ke rumah thermostat, thermostat yang oleh pabrikan di-set untuk membuka pada suhu antara 85-90 C membuka, sehingga memungkinkan air dari blok mesin masuk ke radiator. Dengan membukanya thermostat, ujung dari thermostat tersebut menutup lubang by-pass yang berseberangan dengan jalur keluar air. Dengan tertutupnya lubang by-pass tersebut juga memungkinkan waterpump untuk memompa air dari dalam radiator untuk menjaga temperatur kerja dari mesin tersebut. Air yang keluar dari blok mesin masuk ke radiator untuk didinginkan dengan bantuan tiupan angin dari fan, baik mekanik maupun elektrik. Fase ini disebut fase pendinginan. Di saat mesin berkerja pada putaran rendah, suhu kerja mesin turun dari 85 deg.C, maka otomatis si thermostat kembali menutup untuk menjaga temperatur air tidak berkurang dari suhu kerja mesin, dan akan membuka kembali ketika suhu tersebut tercapai kembali. Kedua fase ini berpindah secara bergantian bergantung dari temperatur mesin itu sendiri.

Ada kesalahpahaman yang terjadi pada pengguna kendaraan yaitu melepas thermostat karena dianggap benda tersebut mengakibatkan temperatur mesin naik dari yang semestinya. Hal ini perlu dicermati karena seperti komponen mesin yang lain, thermostat pun memiliki umur pakai. Indikasi dari thermostat sudah tidak dapat bekerja secara maksimal adalah temperatur mesin naik lebih tinggi dari suhu normalnya bila dilihat dari indikator temperatur di dalam kendaraan.
 
Mencopot thermostat bukan sebuah tindakan yang bijaksana karena dengan mengilangkan thermostat sebagai pengatur sirkulasi air di sistem pendinginan terebut, sirkulasi air akan berjalan tidak sempurna. Tanpa thermostat, fase pemanasan dan fase pendinginan tidak terjadi, dikarenakan pada temperatur mesin masih dingin, air sudah masuk ke radiator, padahal temperatur air belum perlu untuk didinginkan. Tanpa thermostat, lubang by-pass pun tidak tertutup sehingga waterpump akan memompa air dari lubang by-pass tersebut. Hal ini mengakibatkan debit air yang didesain untuk berjalan di keseluruhan waterjacket tidak tercapai. Suplai air menuju ke tempat terjauh dari waterpump terganggu karena adanya pencabangan, jalur pertama yaitu jalur bypass langsung ke kembali ke waterpump sementara jalur kedua ke waterjacket. Dengan berkurangnya debit air tersebut, pendinginan untuk silinder nomor 3 dan nomor 4 menjadi berkurang, mengakibatkan suhu pada kedua silinder ini naik dari suhu kerja optimalnya. Terlebih lagi, temperatur air yang dideteksi oleh sender/sensor temperatur air adalah air yang baru saja didinginkan oleh radiator yang secara tidak sengaja terhisap oleh waterpump karena terbukanya lubang by-pass sehingga pada panel indikator temperatur menunjukkan suhu mesin dingin sementara pada silinder 3 dan 4 tidak mendapatkan pendinginan yang cukup. Pada kondisi ekstrem, kurangnya pendinginan akan memicu pemuaian piston sehingga besar kemungkinan piston tersebut macet karena pemuaian tersebut.

Permasalahan pada cooling system dapat dicermati dengan melihat apakah fungsi masing masing komponen bekerja dengan baik. Untuk mengecek apakah thermostat masih berfungsi dengan baik dapat dengan cara melepas perangkat tersebut kemudian merebusnya di dalam panci berisi air. Ketika air mendidih, thermostat tersebut harus sudah membuka, apabila tidak artinya sudah tidak dapat dipakai lagi. Untuk waterpump, apabila terlihat ada tetesan air dari lubang dibawah as pulley, itu merupakan tanda awal bahwa waterpump tersebut mengalami kerusakan. Waterpump yang rusak tidak dapat diperbaiki, harus diganti dengan yang baru. Apabila kondisi thermostat dan waterpump dalam keadaan baik namun temperatur masih diatas normal, besar kemungkinan radiator sudah tidak berfungsi dengan baik. Untuk perbaikannya bisa dilakukan dengan bantuan tukang radiator. Kondisi clamp dari selang selang pun harus dicermati, karena apabila kerapatan clamp sudah tidak pada kondisi normal, air panas dapat keluar dari sela sela selang karetnya, lama kelamaan air akan habis sehingga mengakibatkan mesin mengalami overheating.

Sebagai tambahan dari sistem pendinginan di atas, untuk mengoptimalkan kerja cooling fan atau kipas pendingin udara dalam menjaga kestabilan suhu air di radiator, penggunaan fan shrout atau rumah kipas mutlak harus ada. Absennya fan shrout membuat hembusan udara dari fan tidak terfokus pada radiator, apalagi bila kendaraan melaju pada kecepatan tinggi. Hembusan udara dari arah bawah kendaraan dapat memecah konsentrasi udara pendingin yang ditiup oleh fan ke radiator.

Mengatasi Mesin Mobil yang OverHeating

Cuaca yang sangat panas, perjalanan jauh ataupun lalu lintas yang macet, seringkali menyebabkan mesin kendaraan menjadi terlalu panas. Ini jarang terjadi dengan mobil baru, tetapi untuk mobil tua kejadian tersebut dapat menjadikan temperatur mesin naik.

Mesin mobil panas juga bisa disebabkan air dalam radiator berkurang atau ada kebocoran di sistem pendingin. Jika Anda tidak dapat menemukan kebocoran, termostat mungkin mengalami gangguan fungsi.

Tips singkat berikut ini memberikan petunjuk ketika mesin mobil anda over heat (jarum temperatur suhu mesin melewati batas normal) untuk pertolongan pertama anda di jalan, sebelum membawa ke bengkel

Ketika Anda melihat jarum temperatur bergerak melewati batas normal, maka itulah tanda pertama dari overheating (mesin panas). Segera matikan AC untuk mengurangi beban pada mesin dan membantu pendinginan. Jangan lupa buka jendela mobil supaya Anda tidak kepanasan.

Ketika berhenti di lampu lalu lintas dan temperatur mesin masih terlihat meningkat, pindah gigi ke posisi Netral dan naikkan putaran mesin sedikit dengan cara menekan pedal gas: hal ini membuat pompa air dan kecepatan kipas up, menarik air dan udara melalui radiator . Udara meningkat dan sirkulasi cairan membantu pendinginan.

Sebaiknya Anda tidak sering menginjak rem. Karena dengan sering menginjak rem akan meningkatkan beban pada mesin dan membuatnya semakin panas. Jika lalu lintas padat, jalankan mobil perlahan dan gunakan rem tangan bila memungkinkan, perhatikan jarak dengan kendaraan di depan Anda.

Jika jarum temperatur terus meningkat dan Anda menrasa mesin kendaraan akan segera mati karena terlalu panas, segera berhenti di tepi jalan yang aman, buka kap mesin, dan tunggu sampai keadaan dingin dulu. Ingat, jangan membuka tutup radiator dalam kondisi ini, dan jangan tambahkan air sampai mesin dingin lagi.

Jika Anda harus menambahkan air saat mesin telah cukup dingin, tambahkan air perlahan-lahan sewaktu mesin sedang berjalan (kondisi hidup).

Mengenal Jenis Oli Mobil

Oli yang ada sekarang berbeda dengan tahun 80an dan 90an, hal ini terjadi berkat banyaknya mobil-mobil berkemampuan super seperti mobil-mobil hot hatch (SLR, Z3, Audi TT), mobil-mobil multivalve (16, 32, 64 valve), mobil turbo dan mobil super lainnya membuat produsen oli mengerahkan kemampuannya untuk mengeluarkan oli berkemampuan tinggi.

Apa saja tugas oli di mesin kendaraan kita?

Tugas utama oli mesin adalah untuk menghindari bagian-bagian metal dari permukaan parts mesin untuk saling bergesekan dan bertumbukkan satu sama lain dan saling merusak, selain itu juga mentransfer panas yang diakibatkan pembakaran kedalam combustion chamber (ruang pembakaran). Selain itu oli harus dapat menetralkan by product (produk samping yang berbahaya) dari pembakaran seperti Silica (SiO2) dan Acid yang tersuspensi. Oli juga”mencuci” mesin dari pembentukan endapan kimia di ruang bakar dan tetap melapisi permukaan mesin. Dan terakhir, tugas oli adalah meminimalkan terpaparnya permukaan mesin terhadap udara sehingga menghindari proses oksidasi pada suhu dan tekanan yang sangat tinggi.

Bagaimana kita membaca nomor W seperti 5W-40?

Banyak penjelasan mengenai penomoran pada oli, dari SAE, API dan lainnya, tapi disini akan dijelaskan sekilas saja sehingga tidak membuat kita semua menjadi bingung. Nomor sebelum W adalah viscosity (kekentalan) pada saat mesin dingin dan nomor setelah W adalah viscosity pada saat mesin panas. Semakin rendah nomor di depan maka mesin semakin mudah di start pada keadaan dingin.

Sebagai contoh:

5W-40 adalah jenis oli yang
  • Dapat membantu kita menghemat bahan bakar
  • Meningkatkan performa mesin dan tenaganya
  • Mempermudah start di pagi hari
  • Memastikan perlindungan terhadap mesin dan mencegah terjadinya deposit di mesin
  • Memerlukan pergantian yang lebih lama (5000 – 7000 km)
20W-50 adalah jenis oli yang
  • Melindungi mesin lebih baik
  • Lebih boros bahan bakar karena oli lebih kental
  • Harus dilakukan pergantian oli yang lebih sering (3000 – 5000 km)
Jangan lupa untuk cek oli melalui “dip stick” yang tersedia. Jangan terlalu lama menjalankan kendaraan dengan kondisi oli dibawah batas minimum dip stick. Dibawah itu, maka pompa oli akan mengalami kesulitan untuk mendistribusikan oli bagian atas mesin dan tetap menyisakan oli di bagian paling bawah. Jadi, jagalah agar kondisi oli dalam keadaan normal setiap saat.

Jarak Tempuh Wajar untuk Mobil Bekas

Secara umum, saya tidak merekomendasikan anda untuk membeli mobil dengan jarak tempuh yang sangat tinggi seperti 250.000 km atau lebih. Tetapi jarak tempuh yang rendah juga tidak menunjukkan bahwa kendaraan tersebut adalah kendaraan yang baik untuk dimiliki. Waspadalah terhadap kendaraan yang pernah tabrakan sehingga membutuhkan waktu lama di bengkel, kendaraan yang odometernya telah diputar mundur, oleh dari itu maka sebaiknya periksalah history atau service record kendaraan tersebut.

Apabila anda ingin mempertimbangkan jarak tempuh maka hal dibawah dapat dijadikan patokan sebagai berikut:

Kendaraan niaga, minibus kecil, dan city car memiliki jarak tempuh wajar 20-25.000 setahun. Kendaraan tersebut cenderung menjadi kendaraan operasional, antar jemput, dan usaha lainnya yang membutuhkan mobilitas tinggi. Diatas 25.000 km boleh dibilang tinggi. Contoh kendaraan ini adalah: Toyota Kijang Inova, Toyota Avanza, Daihatsu Granmax, Toyota Yaris, Suzuki Swift, Honda City, dan kendaraan sejenis lainnya.
 
Kendaraan sedan dan minibus premium memiliki jarak tempuh wajar 15-20.000 km setahunnya. Kendaraan ini digunakan sebagai kendaraan antar jemput anak sekolah, mengantar arisan dan berangkat ke kantor sehari-harinya. Jenisnya seperti Mitsubishi Gallant dan Lancer, Toyota Altis dan Camry, Volvo S40, Honda Civic, Nissan Serena, Toyota Noah, Toyota Alphard, Honda Odyssey dan kendaraan jenis lainnya.

Kendaraan Premium baik sedan, SUV maupun minibus memiliki jarak tempuh wajar antara 10-15.000 km per tahunnya. Kendaraan ini adalah kendaraan kedua bahkan kendaraan ketiga yang tidak dipakai setiap hari. Jenis kendaraan ini seperti Mercedes Benz seri E dan S, BMW seri 5 dan seri 7, Range Rover baik Sport, Vogue maupun Land Rover Discovery dan kendaraan sejenis lainnya.

Kendaraan Collector Item memiliki jarak tempuh antara 3.000 – 5.000 setiap tahunnya. Kendaraan jenis ini dipakai hanya seminggu sekali atau kadang untuk berkumpul sesama penggemar ke luar kota. Kendaraan jenis ini seperti Ferrari, Maserati, Rolls Royce, Lamborghini. Juga yang termasuk kendaraan jenis ini adalah kendaraan lawas dengan umur lebih dari 30 tahun.

Anda tidak usah menggunakan batasan kilometer di atas sebagai harga mati, karena kondisi di luar jauh lebih beragam. Sebagai ilustrasi:
  • Jarak tempuh yang sedikit, tapi sering dalam kemacetan sama saja dengan jarak tempuh yang banyak tapi sering melalui jalan tol atau jalan bebas hambatan.
  • Jarak tempuh yang sedikit tapi tidak terawat akan lebih menyedihkan dibandingkan dengan jarak tempuh banyak tapi terawat secara teratur di dealer resmi kendaraan tersebut dan kondisi kendaraan yang masih sangat baik.
Jadi jangan menilai suatu kendaraan dari jarak tempuh nya, tapi nilailah dari kondisi nya dan sekali lagi… intuisi anda. Oleh sebab itu maka kunjungi dulu mobil tersebut, berkenalan dengannya (masuk ke dalamnya, hidupkan mesinnya, lihat recordnya), dan bermain dengannya (lakukan test drive), dari situlah anda dapat mengenalnya lebih baik.

Tips Mengemudi Hemat BBM

Belum lama ini terdengar wacana bahwa seluruh mobil dengan plat hitam akan tidak lagi diperbolehkan untuk mengkonsumsi BBM bersubsidi. Itu artinya pengeluaran anda dalam membeli BBM akan bertambah. Daripada mengeluh, ada beberapa tips menarik yang akan dapat membantu anda dalam menghemat pemakaian BBM seperti di bawah ini:
  1. Selalu perhatikan tekanan angin ban, pastikan sesuai dengan standar mobil anda. Tekanan angin yang kurang akan membuat mobil berjalan lebih berat.
  2. Lakukan spooring secara berkala supaya keselarasan roda mobil anda selalu terjaga.
  3. Jangan melakukan akselerasi mendadak, apalagi dengan menekan habis pedal gas.
  4. Perhatikan penggunaan gigi persneling, pastikan sesuai dengan kondisi jalan dan kecepatan. Jangan percaya mitos bahwa menggunakan gigi tinggi dengan sesegera mungkin akan mengirit BBM. Yang terjadi adalah mesin anda akan berputar lebih berat dan membutuhkan BBM lebih banyak. Sebagai contoh anda berkendara dengan kecepatan hanya 40 km/h tetapi menggunakan gigi 4, sudah pasti mesin akan berputar berat dan bergetar.
  5. Perhatikan di rpm berapa torsi maksimum mesin tercapai (bisa dilihat pada buku petunjuk penggunaan mobil anda atau bila sudah tidak ada, anda bisa mencarinya di internet). Dengan mengetahui hal ini maka anda akan bisa melakukan perpindahan gigi dengan tepat.
  6. Jangan berkendara di kecepatan tinggi dengan kaca terbuka, angin yang masuk akan tertahan di kaca belakang dan membuat efek menahan pada mobil.
  7. Segera matikan mesin bila anda berhenti untuk parkir atau menunggu.
  8. Jangan mudah terpancing emosi bila ada pengendara lain yang memprovokasi anda untuk mengebut karena hanya akan memboroskan BBM.
  9. Perhatikan rute yang akan dilalui dan siapkan jalur alternatif apabila rute utama anda sedang dilanda kemacetan. Ingat, saat macet parah konsumsi BBM mobil anda bisa berkisar di angka 1 liter untuk 2 kilometer atau bahkan 1 liter untuk 0 kilometer. Boros bukan? Dan ini berlaku untuk mesin dengan kapasitas yang paling kecil sekalipun.
  10. Gunakan efek pengereman mesin untuk membantu mengentikan mobil. Pada mobil-mobil yang menggunakan sistem komputer, pasokan BBM akan dihentikan begitu anda melakukan pengereman mesin.
  11. Biasakan untuk tidak membawa benda-benda yang tidak perlu di mobil anda. Terkadang banyak orang memperlakukan mobilnya bagaikan lemari berjalan. Makin tinggi beban yang dipikul maka makin besar pula BBM yang dibutuhkan untuk menggerakkan mobil.
Satu hal yang perlu anda ketahui, setiap mesin mobil walau berkapasitas besar sekalipun akan dapat mencapai tingkat efisiensi BBM yang optimal sepanjang anda paham dan kenal dengan karakter mesin mobil itu. Hanya saja tingkat efisiensi optimal yang akan didapatkan selalu berbeda, misalnya mesin dengan kapasitas 3.000 CC sudah pasti berbeda dengan mesin 1.500 CC.

Hal lain yang seringkali menyesatkan adalah mitos tentang mesin berkapasitas kecil selalu lebih irit, teori yang satu ini erat hubungannya dengan power to weight ratio. Ambil contoh, sebuah mobil dengan tipe sama dan bobot lebih kurang sama, tetapi yang satu bermesin 3.000 CC dan yang satu lagi 2.300 CC, alih-alih lebih irit, malah bisa jadi lebih boros atau mungkin memiliki konsumsi BBM yang sama. Kenapa? Karena si mesin dengan tenaga yang lebih kecil itu diharuskan menarik beban yang sama beratnya. Akibatnya BBM pun menjadi boros. Jadi waspadalah dengan pendapat yang sudah dipercaya oleh kebanyakan orang ini.

Salam irit!

Jadilah Konsumen (Otomotif) Yang Cerdas

Produk otomotif seperti kendaraan roda empat selalu memiliki daya tariknya masing-masing. Lalu apa yang membuat anda tertarik dan memutuskan memilih mobil yang sedang anda gunakan sekarang?

Pandangan mata anda pertama kali mungkin tertuju pada iklan televisi atau sehelai brosur yang anda dapatkan di sebuah pameran, lalu beberapa hari kemudian anda memutuskan berkunjung ke ruang pamer dan bertemu dengan bagian pemasaran mobil itu. Singkat cerita terjadilah dialog antara anda dengan sang penjual. Yang umum terjadi adalah, anda membuka pintu mobil idaman, memandang ke sekeliling interior, mencoba duduk di dalamnya sambil memencet beberapa tombol yang ada di dasbor, membuka kap mesin mobil lalu anda mulai berjalan mengitari mobil. Setelah itu pertanyaan yang umum terlontar adalah, berapa konsumsi BBM nya? Apakah bisa menggunakan bahan bakar beroktan 88? Berapa harga jual kembalinya? (Wah belum juga dibeli tapi sudah berpikir dijual).

Si penjual dengan sigap akan memberikan konsumsi BBM yang sangat irit, umumnya berbasis pada hasil tes produsen atau hasil tes dari majalah tertentu dan diamini dengan keyakinan bisa memakai bahan bakar beroktan rendah. Tak lama kemudian, mungkin anda sudah membayar uang muka sebagai tanda jadi.

Tapi tahukah anda kalau sebenarnya masih banyak hal yang bisa digali dari sebuah mobil? Jangan hanya selalu berpatokan kepada tingkat keiritan konsumsi bahan bakar dan bahan bakar apa yang bisa digunakan, karena hasil tes produsen ataupun dari majalah tertentu seringkali tidak mewakili apa yang terjadi dalam kondisi pengendaraan sehari-hari. Mereka melakukan tes dengan menggunakan teknik dan kondisi jalan tertentu yang memang memungkinkan kendaraan untuk mencapai tingkat efisiensi yang optimal dan seorang penjual yang baik akan tidak segan-segan untuk memberikan data dan fakta yang sebenarnya pada anda.

Tiga pertanyaan tadi adalah khas konsumen Indonesia. Tapi mulai sekarang, tidak ada salahnya untuk menjadi konsumen yang lebih cerdas lagi dalam memilih mobil. Sebaiknya anda bertanya fitur keamanan dan keselamatan apa yang ada di mobil itu? Kelengkapan kenyamanan apa yang bisa anda dapatkan ? Bagaimana ketersediaan suku cadang dan jaringan servisnya ? Ada berapa tipe mesin yang tersedia untuk mobil yang sama? Apakah mobil yang anda lihat sudah merupakan tipe terbaru? Karena seringkali anda diberikan potongan harga yang fantastis hanya karena sebentar lagi mobil itu akan berganti model. Lalu fasilitas dan bonus apa yang akan anda dapatkan? Berapa potongan harganya? Dengan demikian setidaknya anda bisa mengetahui setiap keunggulan dan kelemahan yang ditawarkan. Terakhir, jangan lupa lakukan tes jalan. Setiap ruang pamer umumnya selalu memiliki unit tes yang dapat anda coba. Jangan pernah sungkan untuk melakukan hal ini, lebih baik anda mencoba dulu mobil yang nantinya akan anda beli ketimbang seperti membeli kucing dalam karung. Dengan mencoba, anda akan tahu bagaimana rasanya ketika mobil itu dikemudikan. Rasakan kenyamanannya, uji akselerasinya (tentu dengan batas-batas yang wajar dan tetap memperhatikan keamanan), buktikan efisiensi BBM nya, lalu bandingkan kenyataan yang anda dapatkan dengan apa yang tertulis di brosur dan apa yang dikatakan si penjual.

Pada akhirnya anda akan bisa mengambil kesimpulan apakah jadi membeli atau tidak. Putuskan membeli bila memang anda dan keluarga sudah merasa cocok dengan mobil tersebut. Jangan membeli hanya karena anda terkena bujuk rayu si penjual. Beberapa hal lagi yang perlu diingat, sebagai konsumen cerdas, anda jangan membeli sebuah mobil hanya karena kata orang lain mobil itu bagus, mobil yang anda incar itu tampak banyak berseliweran di jalan raya, kata orang mobil bermesin kecil itu selalu irit BBM dan berbagai macam pendapat ataupun mitos lainnya yang seringkali banyak salahnya ketimbang benarnya.

Be smart!

Tips Memilih Mobil Sesuai Kebutuhan

Mobil merupakan salah satu sarana transportasi yang masih sangat diminati hingga saat ini, walaupun kondisi lalu lintas kota-kota besar kerap kali didera kemacetan luar biasa atau bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari warga perkotaan. Hal ini dapat dibuktikan dari meningkatnya angka penjualan mobil dari tahun ke tahun.

Alternatif lain yang bisa ditempuh adalah dengan memiliki sepeda motor sebagai kendaraan harian atau naik kendaraan umum. Tetapi mengapa mobil tetap didambakan oleh banyak orang? Coba anda bayangkan ketika akhir pekan tiba atau saat liburan panjang telah menjelang, tentunya akan lebih nyaman bila anda bisa mengajak keluarga atau orang yang anda sayangi pergi bersama dengan mengendarai mobil pribadi.

Lalu bagaimana memilih mobil yang tepat? Sebenarnya memilih mobil bukanlah hal yang terlalu sulit, asalkan anda bisa mengenali latar belakang pekerjaan, jumlah anggota keluarga maupun kondisi jalan yang akan anda lalui sehari-hari.

Soal mobil baru atau mobil bekas yang akan dibeli dapat dilihat dalam artikel yang sudah ada sebelumnya. Sekarang tinggal tentukan jenis mobil apa yang akan anda beli.

Apabila anda belum berkeluarga dan bekerja di daerah pusat bisnis yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi, akan lebih baik bila anda memilih mobil dengan jenis City Car ataupun Compact Hatchback. Mengapa? Mobil ini memiliki dimensi kecil yang dapat membuatnya lincah membelah kepadatan lalu lintas dan tidak sulit untuk diparkir. Selain itu kapasitas mesinnya yang berkisar antara 1.000 CC hingga 1.500 CC bisa memberikan efisiensi dalam penggunaan BBM.

Lain lagi bila anda telah berkeluarga, tentunya kebutuhan akan kapasitas penyimpanan barang dan kapasitas penumpang menjadi lebih besar. Untuk kebutuhan ini, anda bisa memilih kendaraan jenis Multi Purpose Vehicle (MPV) yang kini banyak ditawarkan oleh hampir seluruh produsen mobil yang ada di Indonesia. Masing-masing MPV itu tentunya memiliki kelebihan dan keunikannya masing-masing. Tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan selera anda. Mobil jenis MPV sendiri sangat layak untuk digunakan sebagai kendaraan sehari-hari karena umumnya telah dirancang cukup nyaman dan akomodatif untuk semua penumpangnya. Hanya saja mesinnya yang berkapasitas antara 1.500 CC hingga 2.500 CC tentunya tidak akan seirit sebuah City Car karena MPV memiliki bobot yang lebih berat dan dimensi lebih besar.

Mobil jenis Sedan layak dipilih untuk anda yang mengutamakan performa dan penampilan dalam berkendara karena mobil Sedan umumnya dirancang untuk memberikan kenyamanan yang lebih baik. Karakter lainnya adalah mobil Sedan memberikan kestabilan dan kecepatan yang lebih dibandingkan dengan mobil yang lebih tinggi. Sedan sendiri terbagi lagi menjadi Small Sedan dengan kapasitas mesin 1.500 CC, Medium Sedan yang berkapasitas mesin antara 1.800 CC hingga 2.000 cc sampai ke kelas Big & Luxury Sedan yang berkapasitas mesin mulai dari 2.000 CC hingga 6.000 CC. Untuk kelas yang terakhir ini tentunya anda harus merogoh kocek dalam-dalam karena fitur keamanan, kenyamanan dan kemewahan yang diberikan seringkali begitu luar biasa dan berbeda jauh dengan kelas dibawahnya.

Untuk anda yang sering berkendara di jalanan dengan kondisi yang kurang baik seperti berlubang-lubang dan tergenang air, sebaiknya memilih mobil jenis Sport Utility Vehicle (SUV) karena mobil ini memiliki ground clearance yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan City Car ataupun MPV. Perjalanan anda akan lebih aman karena kolong mobil tidak mudah tersangkut dan lebih memungkinkan untuk melintasi genangan air.

Bahkan untuk anda yang diharuskan melintas di kondisi jalan yang benar-benar rusak seperti berlumpur, rasanya patut mempertimbangkan sebuah mobil SUV yang memiliki penggerak empat roda (four wheel drive/4wd). Nah untuk anda yang bekerja di sektor konstruksi, perkebunan atau pertambangan masih ada alternatif lain untuk dipilih, yaitu mobil jenis Double Cabin. Penggerak empat rodanya yang mumpuni masih dilengkapi lagi dengan bak pengangkut di bagian belakang yang memungkinkan anda untuk membawa keperluan-keperluan berat seperti peralatan dan lain-lain. Mobil dengan penggerak empat roda ini juga asyik untuk digunakan mengajak keluarga anda bepergian menuju lokasi-lokasi liburan yang tidak dapat dengan mudah dijangkau mobil biasa atau berpenggerak dua roda.

Sekarang soal mesin mobil, anda mungkin masih berpikir memilih mesin bensin atau mesin diesel. Kedua jenis mesin ini memiliki keunggulannya masing-masing, mesin bensin dengan akselerasi, keheningan dan kecepatannya sementara mesin diesel yang khas dengan tenaga besar di putaran bawahnya. Saat ini sebagian besar mesin diesel sudah bisa menyaingi mesin bensin karena dilengkapi dengan turbo dan piranti canggih lainnya yang membuatnya berbeda dengan mesin diesel konvensional. Mesin bensin layak dipilih bila anda berkendara kurang dari 100 km per hari dan tidak membawa beban berat. Tetapi bila anda berkendara lebih dari 100 km per hari dan membawa beban yang cukup berat seperti penumpang penuh ditambah barang-barang lainnya, mesin diesel layak untuk dipilih karena mesin diesel memiliki efisiensi penggunaan BBM yang lebih tinggi ketimbang mesin bensin.

Sebelum memutuskan akan membeli mobil apa, tidak ada salahnya banyak bertanya kepada orang lain, keluarga ataupun kerabat yang sudah lebih dulu menggunakan mobil incaran anda. Gali lebih jauh tentang karakteristik mobil tersebut, bagaimana kenyamanannya, biaya perawatannya, konsumsi BBM nya dan fitur keamanan yang ada pada mobil tersebut. Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana layanan purna jual dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mobil tersebut. Jangan sampai anda membeli mobil yang tidak didukung ketersediaan suku cadang yang baik dan layanan bengkel yang tidak memuaskan karena hal ini bisa membuat anda kerepotan di kemudian hari dan hal ini pula yang dapat mempengaruhi nilai jual kembali mobil tersebut.

Terakhir, selalu sesuaikan jenis mobil dengan kebutuhan, selera dan kondisi keuangan anda supaya mobil yang anda beli benar-benar dapat mendukung kegiatan dan perjalanan anda sehari-hari.

Berkendara melintasi banjir

Saat musim hujan tiba, tak jarang anda harus mengemudi di tengah guyuran hujan deras. Masalahnya hujan deras yang turun terus menerus seringkali menimbukan genangan air di jalan yang akan anda lewati. Lalu bagaimana jika anda terpaksa harus tetap melintasi genangan air tersebut?

Yang pertama adalah jangan bingung dan jangan panik, walaupun pada dasarnya sebuah mobil tidak dirancang untuk “berenang”, tetapi masih tetap dapat melintasi genangan air dengan batas kemampuan yang berbeda-beda antara tiap mobil. Jangan samakan kemampuan sebuah SUV dengan sebuah sedan untuk soal yang satu ini.

Intinya adalah kenali mobil anda, ingat seberapa tinggi posisi mulut saluran saringan udara mobil anda, dan dimana posisi komponen pengapian seperti busi, koil, dan distributornya (untuk mesin bensin). Tak lupa posisi komponen elektrikal seperti kotak sekring dan komputer pengatur manajemen mesin mobil anda. Dengan mengerti letak seluruh komponen itu, maka anda akan tahu persis bagaimana mengambil keputusan sesuai dengan kedalaman air di depan anda, maju terus atau putar balik.

Selama ini ada mitos lucu meninggikan knalpot supaya air tidak masuk ke knalpot, sebaiknya lupakan trik yang tidak ada gunanya ini. Selama mesin hidup, maka dorongan gas buang dari mesin masih cukup kuat untuk menghalau air. Justru yang terpenting adalah mulut saluran saringan udara anda yang ada di depan sana, karena apabila menghisap air bisa membuat mesin rusak berat.

Trik mengemudi di tengah banjir

Untuk mobil dengan transmisi manual gunakan gigi 1, lalu berjalanlah dengan kecepatan konstan, jaga putaran mesin sekitar 1500 – 2000 rpm. Ingat, jangan gunakan setengah kopling saat melintasi banjir, apalagi jika banjirnya dalam, hal ini akan membuat kopling anda selip karena basah. Untuk transmisi otomatis sebenarnya tidak haram untuk melintasi genangan air, asal jangan terlalu dalam, karena berbahaya untuk komponen elektrikal transmisi tersebut. Posisikan tuas transmisi di 1 atau L, lalu berjalanlah dengan kecepatan konstan sama seperti trik transmisi manual diatas.

Poin penting lain dalam pengemudian melintasi genangan air adalah:
  1. Jangan menerjang genangan air dengan kecepatan tinggi, selain dapat membuat kompartemen mesin anda basah, anda juga dapat kehilangan kontrol pengendalian mobil anda.
  2. Supaya dapat berjalan dengan kecepatan konstan, jaga jarak dengan mobil di depan anda. Jangan terlalu dekat, supaya bila ada yang mengalami mogok anda tidak ikut berhenti, melainkan dapat antisipasi dengan melirik jalur lain.
  3. Bila genangan air cukup dalam sampai menutupi trotoar, ditambah anda tidak menguasai kondisi jalan itu, sebaiknya berpatokanlah pada mobil di depan anda, ada resiko mobil anda tercebur ke selokan, lubang atau menabrak benda yang tertutup air bila anda membuat jalur sendiri.
  4. Bila mesin mati ketika sedang melintasi genangan, jangan langsung mencoba menghidupkan mesin. Ada kemungkinan air telah terhisap ke dalam mesin. Segera dorong/pinggirkan mobil ke tempat yang kering, lalu hubungi bengkel langganan anda untuk melakukan pemeriksaan dan pengeluaran air dari mesin. Bila anda memiliki peralatan dan pengetahuan akan prosedur tersebut, bisa anda lakukan sendiri.
  5. Setelah melintasi genangan air yang dalam, tidak ada salahnya memeriksa kondisi pelumas mesin, transmisi dan gardan mobil anda. Bila berwarna seperti kopi susu, itu tandanya telah tercampur air, segeralah ganti pelumas anda.
  6. Lupakan keinginan melintasi genangan air bila air sudah terlalu dalam (melebihi setengah ban mobil anda), lebih baik putar balik ketimbang mobil anda rusak. Membereskan mesin dan interior yang rusak serta basah akibat air sama sekali bukanlah hal yang menyenangkan apalagi murah.
  7. Jangan bosan untuk belajar mengenal karakter dan posisi komponen penting mobil anda.

Pilih Transmisi Manual atau Matic?

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini teknologi mobil-mobil baru telah berkembang dengan sangat pesat. Termasuk kepada komponen yang berfungsi menambah kecepatan kendaraan, yaitu transmisi.

Dulu umumnya tiap mobil menggunakan transmisi manual, sebenarnya saat itu transmisi otomatis juga sudah ada, tapi kerap kali dijauhi karena dianggap rewel, susah dirawat dan harga jual kembali mobil bertransmisi otomatis saat itu cenderung jatuh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pasar mobil di Indonesia lebih dipengaruhi oleh mitos. Akan tetapi saat ini sebaiknya buang jauh-jauh dari pikiran anda anggapan negatif akan transmisi otomatis yang rewel, susah dirawat, tidak responsif dan tidak awet. Transmisi jenis ini juga merupakan transmisi yang kuat dan tahan lama apabila digunakan dan dirawat dengan baik.

Apa saja sih kelebihan dan kekurangan kedua jenis transmisi ini?

Pertama kita lihat si manual dulu, transmisi ini memang lebih umum dikenal, perawatannya pun mudah, cukup dengan rutin mengganti oli nya tiap 15.000 km maka gigi-gigi di dalamnya akan awet. Bila performa kopling sudah menurun, cukup ganti kopling set nya dan performa maksimal pun kembali lagi. Kelebihan lainnya adalah akselerasi yang dihasilkan oleh transmisi ini lebih baik dan responsif ketimbang otomatis. Kelemahannya adalah cukup melelahkan kaki kiri disaat kita berkendara di tengah kemacetan jalanan kota besar. Soal konsumsi BBM pada transmisi manual benar-benar bergantung pada pengemudinya, apabila mengemudi dengan teknik yang benar maka konsumsi BBM akan irit, tapi bila tidak tentu akan boros juga.

Lalu bagaimana dengan si otomatis? Transmisi otomatis memiliki jarak penggantian (pengurasan total) oli yang lebih panjang, umumnya setiap 25.000 km jika kita ingin transmisi kita awet dan selalu dalam performa terbaiknya. Tetapi setiap 5.000 km sebaiknya dilakukan penggantian oli yang berada di bak oli transmisi nya saja, umumnya sekitar 3 liter, beda dengan pengurasan total yang berkisar di angka 8 liter oli. Dengan dilakukannya perawatan rutin tersebut maka jangan kuatir, transmisi otomatis akan awet dan berumur panjang, mungkin biaya perawatannya sedikit lebih tinggi, tapi sesuai dengan kenyamanan yang kita dapatkan. Juga dalam penggunannya, apabila sedang berhenti untuk waktu yang lama, misalnya saat macet total atau saat lampu lalu lintas menyala merah, posisi tuas harus diposisikan di N (netral) supaya transmisi tidak menjadi panas dan kopling tidak mengalami slip. Soal akselerasi juga tidak perlu kuatir, karena teknologi yang diaplikasikan di transmisi otomatis sudah kian canggih, bahkan ada beberapa transmisi otomatis yang memiliki mode manual. Soal kehematan BBM juga tidak selalu lebih boros dari manual, apalagi saat di jalan bebas hambatan mesin dengan transmisi otomatis cenderung berputar di rpm yang lebih rendah dan stabil.

Lalu apa yang jadi pertimbangan dalam memilih? Jika kita tinggal di kota kecil yang jarang macet dan memiliki medan jalan yang berbukit tidak salah jika memilih mobil dengan transmisi manual yang akan memberikan respon yang baik dan lebih mudah ditangani oleh mekanik setempat, tetapi bila kita tinggal di kota besar dengan kemacetan yang sering menghadang, tidak usah ragu untuk memilih transmisi otomatis yang akan memberi kemudahan dan kenyamanan berkendara. Keduanya memiliki keunikannya masing-masing, tinggal sesuaikan dengan kebutuhan kita dan tidak perlu risau dengan mitos-mitos jaman dulu.

Mengenal Transmisi Otomatis

Transmisi menggunakan roda gigi-roda gigi (gears) dari rasio rendah ke tinggi untuk memaksimalkan torsi mesin sesuai dengan perubahan yang terjadi pada saat berkendara. Ada dua macam transmisi yaitu manual dan otomatis. Pada transmisi manual yang digunakan adalah kopling dan lock unlock berbagai macam set gear untuk mendapatkan rasio gigi yang berbeda. Transmisi otomatis menggunakan torque converter dan planetary gears (roda gigi satelit) yang dapat membuat satu set gear menghasilkan rasio gigi yang berbeda.
Transmisi otomatis memiliki beberapa keunggulan antara lain:
  • Membuat anda nyaman berkendara di kemacetan karena tidak diperlukan pergantian gigi secara manual dengan menggunakan tuas transmisi dan menginjak kopling.
  • Apabila dirawat dengan baik, dapat memiliki umur yang panjang.
  • Cenderung less maintenance (tidak memerlukan perawatan) selain ganti oli dan filter nya.
  • Apabila dalam keadaan prima, maka anda tidak akan merasakan perpindahan dari gigi rendah ke gigi tinggi dan sebaliknya.
Adapun kelemahannya adalah:
  • Apabila aki soak, maka kendaraan tidak dapat didorong untuk jump start.
  • Apabila rusak maka penggantiannya akan memakan biaya yang besar.
  • Pada saat jalan menurun, mobil tidak memiliki engine brake, dimana mesin tidak ikut membantu pengereman mobil.
Nah, sekarang setelah kita mengetahui apa itu transmisi otomatis, mengetahui kelebihan dan kekurangan nya, bagaimana kita menjaga transmisi tersebut agar awet, dan seawet umur kendaraan kita?
  • Sebisa mungkin jangan gunakan mobil bertransmisi otomatis untuk menarik kendaraan, apabila terpaksa, gunakan gigi rendah yang dimiliki oleh mobil tersebut.
  • Lakukan penggantian oli transmisi secara teratur.
  • Apabila kendaraan ditarik, maka salah satu sumbu roda yang berpenggerak harus diangkat (contoh; menarik mobil penggerak depan maka bagian depan diangkat). Hal ini dilakukan untuk mencegah putaran roda mempengaruhi kerja transmisi yang tidak memiliki pelumasan yang baik.
  • Di tanjakan, anda jangan menahan transmisi di D dan menginjak gas setengah untuk mempertahankan agar mobil tidak turun, tapi gunakan rem dan pindah transmisi ke N (Neutral).
  • Apabila kendaraan di kemacetan berhenti lebih dari 15 detik, pindahkan tuas ke N (Neutral).
  • Jangan menginjak gas terlebih dahulu baru memindahkan tuas ke D atau R, sebaiknya mobil dalam keadaan rpm idle baru tuas dipindahkan.

Mengenal Differential Locker

Differential Locker, sesuai namanya, mengunci gerakan as roda kiri dan kanan secara simultan. Ada 2 jenis differential locker (selanjutnya disebut locker saja) yang dibedakan oleh cara pelepasan pengunciannya yaitu yang pertama adalah Automatic Locker dan yang kedua adalah Selectable Locker. Masing masing jenis tersebut masih terbagi lagi menjadi beberapa tipe.

Jenis pertama adalah Automatic Locker, dimana operasi pelepasan penguncian diferensialnya didasarkan oleh perbedaan putaran saat gardan tidak menerima torsi. Sesuai namanya, differensial benar benar dikunci secara 100%. Automatic Locker sendiri ada 2 macam yaitu tipe light duty dan heavy duty. Untuk tipe light duty, pada sistem diferensial yang digantikan hanya bagian tengah (satelite gear dan side gear) sedangkan untuk kerangka diferensial tetap menggunakan bawaan mobil. Masuk dalam kategori ini adalah EZ Locker, Tractec Lockright dan lainnya. Tipe light duty ini oleh pabrik pembuatnya hanya direkomendasi untuk penggunaan ban hingga diameter 32 inchi. Sementara untuk tipe heavy duty, perangkat diferensial diganti keseluruhan. Hanya crown gear saja yang dipindahkan dari gardan bawaan mobil. Tipe ini dikeluarkan oleh Detroit Locker, dan tipe ini tidak memiliki limitasi ukuran diameter ban.

Di dalam sebuah locker otomatis terdapat 2 gigi yang menempel satu sama lain menggantikan sistem diferensial. Ketika berjalan lurus, kedua poros roda bergerak secara bersamaan. Ketika berbelok dan tidak ada torsi yang disalurkan oleh tranfercase ke gardan, roda yang menjadi titik pusat putaran (roda sebelah dalam lingkaran belokan) akan berputar lebih sedikit dari roda bagian lainnya. Sebagai contoh, mobil akan berbelok ke kiri. Ketika berbelok, roda sebelah kiri akan berputar lebih sedikit dari sebelah kanan, hal ini juga menyebabkan gigi locker sebelah kiri akan berusaha memisahkan diri dari gigi locker sebelah kanan, dengan dibantu release spring yang berada di bagian dalam dari kedua gigi locker tersebut, maka poros roda kiri akan terpisah dari poros roda kanan. Hal ini akan terus berlangsung hingga poros kanan dan poros kiri berputar dengan putaran yang sama dan kedua bagian gigi locker tersebut akan menempel kembali. Namun apabila mobil berbelok dengan gardan tetap menerima torsi dari transfercase (mobil berbelok tanpa mengangkat pedal gas pada kecepatan tinggi), antara gigi locker kiri dan kanan tidak akan bisa melepaskan diri sehingga akan timbul gejala ‘ngepot’. Hal ini terjadi karena kedua gigi locker tersebut tidak mendapatkan momen yang cukup untuk memisahkan diri sehingga akan terus menerus bergerak dengan putaran yang sama cepat sehingga ketika berbelok roda akan terseret dengan arah yang berlawanan dengan arah belokan.

Jenis locker yang kedua adalah Selectable Locker, atau locker yang dapat diaktifkan atau di-non aktifkan sesuai dengan kebutuhan pengemudinya. Jenis ini memiliki beberapa tipe yang dibedakan dengan metode aktivasi locker tersebut. Tipe pertama proses aktivasinya menggunakan kabel baja hingga kerap disebut cable locker. Tipe ini dapat ditemui pada kendaraan Toyota Land Cruiser seri 40 dan seri 60, untuk aftermarket yang menyediakan tipe ini adalah OX Locker. Tipe kedua proses aktivasinya menggunakan motor elektrik yang menempel pada casing gardannya. Tipe ini kerap disebut electrik locker dan ditemui pada Toyota Land Cruiser seri 80 dan Toyota Hilux. Tipe yang ketiga proses aktivasinya menggunakan angin yang dihasilkan oleh sebuah pompa, hingga kerap disebut air locker. Produk yang menganut sistem ini adalah ARB Air Locker. Namun secara umum, ketiga tipe ini memiliki cara kerja penguncian dan pelepasan yang kurang lebih sama, yaitu mengunci kedua poros roda secara manual oleh si pengemudi.

Di dalam sebuah selectable locker, terdapat 2 gigi dapat yang saling bertautan pada saat posisi lock. Salah satu gigi tersebut dapat bergeser untuk menentukan posisi diferensial terkunci atau terbuka. Untuk proses pergeseran gigi untuk mengunci diferensial kanan dan kiri inilah yang dilakukan oleh ketiga tipe yang disebut lebih tadi. Apabila tidak dibutuhkan, pengemudi dapat melepas kuncian diferensial sehingga kendaraan dapat dikemudikan seperti layaknya mobil yang tidak dilengkapi dengan pengunci diferensial. Sementara ketika diferensial dalam posisi terkunci, tabiat mobil seperti layaknya mobil yang sistem diferensialnya mengalami pengelasan, terkunci 100% setiap saat. Keuntungan dari selectable locker yang lain adalah, pengemudi dapat memilih untuk mengunci atau melepas diferensial sesuai dengan medan yang akan dilaluinya, sehingga pengemudi dapat mengendalikan kendaraannya dengan lebih akurat.

Cara Merawat PowerSteering Mobil

Ada 2 tipe power steering yang akan di bahas disini antara lain tipe rack and pinion dan recirculating ball. Dalam ke dua tipe tersebut ada beberapa alat pendukung power steering antara lain:

Tenaga hidraulis yang disediakan oleh Rotary vane Pump dikendalikan oleh mesin mobil melalui belt dan pulley. Rotary vane pump terdiri dari beberapa vanes (kipas) yang berputar kedalam ruang oval. Pada saat vanes itu berputar maka bersamaan dengan itu menarik minyak power steering dari return line dan menekan nya ke saluran keluar (outlet) dengan tekanan yang sangat tinggi. Jumlah aliran tersebut tergantung dari kecepatan mesin. Pompa tersebut di disain agar dapat mengalirkan minyak yang cukup pada saat kendaraan idling, dan memompa lebih banyak minyak pada saat mesin berada pada putaran yang lebih tinggi.

Sistem power steering berfungsi membantu pengemudi pada saat pengemudi ingin membelokkan kendaraan baik ke kanan maupun ke kiri. Apabila pengemudi dalam keadaan berjalan lurus maka tidak ada daya yang bekerja pada power steering. Alat yang menanggapi hal tersebut disebut dengan rotary valve.
 
Rack and Pinion

Adalah tipe yang paling umum digunakan di banyak kendaraan dewasa ini baik pada kendaraan sedan, truk kecil dan SUV. Mekanismenya sangat sederhana. Rack and Pinion Gear dalam suatu set di tutup dalam silinder metal dan ujung-ujungnya keluar dari dalam tabung. Tie rod menghubungkan antara tiap ujung dari rack.

Gearset rack and pinion melakukan dua hal antara lain:
  1. mengkonversikan gerakan memutar roda kemudi menjadi gerakan linear yang diperlukan untuk membelokkan roda ke kiri dan ke kanan.
  2. Terdapat gear reduction yaitu mengandung banyak roda gigi yang membuat kita memutar roda kemudi lebih ringan.
Pernahkah anda mendengar istilah steering ratio?

Steering ratio adalah seberapa banyak anda memutar roda kemudi berbanding seberapa banyak roda ber belok. Sebagai contoh apabila kita memutar roda kemudi satu putaran penuh (360 derajat) dan roda kendaraan berbelok 20 derajat, maka steering ratio nya adalah 360/20, atau 18:1. Semakin tinggi ratio berarti anda harus memutar roda kemudi lebih banyak untuk melakukan belokan tapi tenaga yang diperlukan lebih sedikit karena rasio gigi yang tinggi. Biasanya mobil sport atau mobil yang ringan memiliki rasio gigi yang lebih rendah dibandingkan dengan truk atau SUV

Recirculating Ball

Tipe ini sering digunakan pada truk maupun SUV. Cara kerjanya hampir serupa dengan Rack and Pinion hanya disini dirubah hanya sistem penggerak nya saja.

Recirculating ball steering mengandung worm gear. Roda kemudi di baut pada metal blok yang mengandung worm gear didalamnya. Worm gear tersebut yang menggerakkan pitman arm agar dapat mendorong tie rod ke kiri dan ke kanan.

Steering shaft dari roda kemudi tida menyentuh blok worm gear tersebut, karena worm gear tersebut di isi oleh bola-bola besi (ball bearings). Tujuan dari bola-bola besi tersebut adalah untuk menghindari adanya gap yang terjadi antara steering shaft dengan blok worm gear sehingga setir terasa “kosong”. Selain itu juga untuk menghindari gesekan yang berlebihan pada blok worm gear.

Untuk menjaga agar power-steering mobil Anda awet, perhatikan hal-hal berikut:
  • Oli power steering memiliki interval penggantian yang amat panjang dan harus diganti pada saat ada penggantian pada sistem power steering. Penggantian tersebut bertujuan agar kotoran-kotoran dari sistem power steering yang lama akan terbuang dan tidak dapat merusak alat yang baru dipasang.
  • Hindari membelok dengan patah yang terkadang membuat pompa power steering berdengung. Hal ini untuk menghindari tekanan tinggi yang berlebihan disuplai ke steering system sehingga dapat membuat high pressure line bocor.
  • Hindari mematikan mesin dalam keadaan roda berbelok. Karena pada saat berbelok saluran high pressure (tekanan tinggi) akan dipenuhi dengan minyak power steering bertekanan tinggi, dan ini akan terus menerus terjadi sampai roda kembali lurus.

Braking,Steering &Electrical System Daihatsu Taft F50 (2)

Artikel ini bagian 4 dari 4 dalam serial Daihatsu Taft

 Berlanjut pada sistem kemudi. Daihatsu Taft F50 mengandalkan sistem re-circulating ball namun belum didukung oleh sistem power assisted baik hidrolik maupun elektronik.
Kerusakan yang sering terjadi pada steering gearbox adalah backlash setir yang terlalu besar,di luar batas toleransi. Hal ini disebabkan keausan worm stir tempat jalur bergerak bola bola besi di dalam steering gearbox sehingga tidak bisa berputar secara presisi lagi. Apabila hal ini sudah terjadi,maka steering gearbox tidak memiliki alternatif lain selain mengganti unit tersebut.
Belakangan,untuk mencari steering gearbox pengganti baik dalam kondisi baru atau bekas terbilang sukar,sehingga pastikan dalam perburuan,kita mendapatkan Daihatsu F50 yang masih memiliki komponen utama sistem kemudi yang masih dalam kondisi baik.

Backlash setir yang terlalu besar membuat mobil tidak nyaman untuk dikendarai,karena saat dikemudikan,posisi lingkar kemudi tidak dapat tetap berada pada posisi center,pengemudi kerap harus berulang kali mengkoreksi posisi setir walaupun mobil berjalan pada jalan yang lurus dan rata. Hal ini pastinya akan menyebabkan kelelahan pada pengemudi apabila harus mengemudikan kendaraan dalam waktu yang panjang.

Setelah berkutat dengan sistem pengereman dan sistem kemudi,kita beranjak menuju pengecekan sistem kelistrikan. Sistem kelistrikan memegang peranan penting karena hampir semua fungsi yang menunjang safety,seperti lampu utama,lampu rem,lampu sign,lampu hazard dan sistem pengisian aki,sangat bergantung pada sistem kelistrikan.

Untuk memeriksa sistem kelistrikan ini amat mudah,dengan kondisi mesin hidup,nyalakan semua lampu. Pada mobil dengan sistem kelistrikan yang baik,ketika semua lampu dihidupkan,tidak ada lampu yang menjadi redup dibandingkan saat lampu tersebut dinyalakan tidak secara bersamaan.

Sebagai contoh,hidupkan lampu utama,kemudian hidupkan lampu hazard dan injak pedal rem. Ketika lampu hazard dan lampu rem dihidupkan,lampu utama tidak boleh meredup sinarnya. Apabila terjadi hal tersebut,hampir mungkin kondisi pengkabelan sudah tidak dalam kondisi yang prima,namun terbilang wajar mengingat umur dari kendaraan tersebut yang sudah melebihi 20 tahun.

Braking, Steering & Electrical System Daihatsu Taft F50 (1)

Artikel ini bagian 3 dari 4 dalam serial Daihatsu Taft

Setelah membahas sektor penerus daya dari F50, pada edisi ini kita beranjak ke pembahasan Braking system, Steering system dan Electrical system. Ketiga sistem ini memiliki peran yang tak kalah pentingnya dengan mesin dan sistem penerus daya. Tanpa ketiga sistem ini, atau salah satu sistem ini terganggu, bisa dipastikan kendaraan tidak dapat beroperasi dengan baik.

Kita mulai dengan pembahasan sistem pengereman dari F50. Seperti lazimnya kendaraan serba guna pada zamannya, F50 masih menggunakan rem tipe drum pada kedua poros roda depan dan belakang. “Sistem pengereman dari Daihatsu F50 ini terbilang masih konvensional. Sistem yang konvensional ini membuat mobil ini bisa dibilang reliable”, rinci Hendro Ady Purnomo pemilik bengkel AMS Workshop yang dikenal sebagai bengkel spesialis perbaikan dan modifikasi jip Daihatsu. Menurut Hendro, pengecekan rem tipe ini terbilang gampang gampang susah. Keuntungan sistem ini ada pada simplisitas komponen, namun begitu, sistem ini juga terbilang tricky untuk mendapatkan setting yang benar. Rem drum mempunyai kecenderungan untuk keluar dari garis jalur pengereman sehingga membahayakan apabila melakukan pengereman mendadak pada kecepatan yang tinggi. Tipe rem ini juga cenderung berkurang kepakemannya apabila tromol rem terendam air.

Satu hal yang penting untuk diperiksa pada sistem pengereman F50 adalah mengecek kondisi booster rem. Kondisi booster rem yang baik sangat membantu pengereman karena booster rem membantu meringankan tekanan pada pedal rem. Booster yang tidak dalam kondisi baik memuat pengereman menjadi tidak nyaman, malah cenderung membahayakan.

Cara untuk memeriksa kondisi booster rem adalah sebagai berikut:
  • Hidupkan mesin kendaraan, kemudian injak pedal rem, lalu lepaskan pedal rem kemudian matikan mesin kendaraan.
  • Setelah mesin mati, injak kembali pedal rem tersebut. Apabila ketika pedal rem diijak sebanyak 3 kali pedal rem baru terasa berat pada injakan rem yang ke 3, artinya booster rem tersebut masih normal.
  • Apabila setelah mesin dimatikan, ketika pedal rem diinjak pedal rem langsung terasa berat (tidak sama dengan ketika mesin masih dalam kondisi hidup) bisa dipastikan kondisi seal seal di dalam komponen tersebut sudah tidak dalam kondisi yang baik lagi.
[bersambung...]

Penerus Daya (Drive Train) Daihatsu Taft F50 (2)

Artikel ini bagian 2 dari 4 dalam serial Daihatsu Taft


Setelah men-test kondisi keausan gigi gigi transmisi dan transfercase, dilanjutkan dengan menggali informasi tentang fungsi tranfercase-nya. Pada posisi mobil diam, pindahkan tuas tranfercase dari 2H ke 4L, sebelumnya untuk F50 yang sudah dilengkapi dengan free wheel hub (freelock) posisinya dipindahkan dari free ke lock (atau dari 2WD ke 4WD), lepaskan kopling dengan tiba tiba. Apabila ketika dilakukan hal seperti itu tiba tiba tuas transfercase berpindah sendiri ke posisi N maka bisa dipastikan as garpu transfercase sudah ada bagian yang mengalami keausan (bagian yang berbentuk bola) sehingga tidak dapat menahan hentakan torsi yang diterima dari mesin. Hal ini tentu berbahaya ketika nantinya mobil tersebut melewati trek downhill atau uphill yang relatif panjang, saat dibutuhkan traksi untuk engine brake atau menanjak, tiba tiba tuas transfercase shifting ke posisi N, maka jip tidak dapat terkontrol dengan baik.

Tentunya timbul pertanyaan, mengapa hal-hal yang disebutkan diatas perlu mendapat perhatian khusus? Hal-hal tersebut harus diperhatikan karena komponen pengganti dari item-item tersebut sudah tergolong agak langka, jangankan dalam kondisi baru, untuk mencari komponen pengganti bekas pakai pun sudah tergolong sulit. Sehingga akan lebih reasonable apabila mencari target untuk ‘kendaraan perang’ yang masih dalam kondisi sehat wal afiat tidak kurang suatu apa. Namun apabila terlanjur telah membeli F50 yang kondisi girboksnya sudah dalam kondisi ‘agak menyedihkan’ ada baiknya untuk meng-overhaul piranti tersebut agar jelas bagian mana yang rusak dan dapat mengantisipasi kerusakan lebih lanjut. Apabila sparepart pengganti memang sudah tidak didapat lagi, untuk transmisi dan transfercase bisa mengganti dengan bawaan mesin DL dengan sedikit penyesuaian pada panjang driveshaft atau as kopel. Transmisi mesin DL sendiri tersedia dalam 2 varian, yaitu 4 speed dan 5 speed, namun harap diingat, penggantian transmisi assy mesin DG dengan transmisi assy mesin DL akan sedikit berpengaruh pada kemampuan kendaraan secara keseluruhan karena perbandingan gigi baik transmisi dan transfercase antara F50 dan F70/F75 tidak sama, F50 memiliki perbandingan gigi transmisi dan transfercase yang lebih kasar dibanding F70/F75. Posisi lubang baut bell housing antara mesin DG dan DL kebetulan sama sehingga pertukaran girboks antara 2 mesin tersebut dapat plug and play.

Setelah selesai berurusan dengan girboks dan transfercase maka selanjutnya kita meneliti kondisi gardan depan dan belakang dari F50 target kita. Sebagai muara dari sistem drivetrain pada kendaraan 4WD adalah kedua gardan depan dan belakang. Kondisi gardan yang tidak baik akan mengakibatkan tenaga dan torsi mesin tidak dapat tersalur sempurna ke keempat roda untuk menggerakkan mobil tersebut. Untuk pengemeriksaannya, jalankan mobil secara perlahan, tambah kecepatan hingga 40 kpj lalu lepaskan injakan pada pedal gas secara mendadak. Apabila saat mobil akan berjalan dan pedal gas diangkat tiba tiba tadi berbunyi suara “kleng” ada 2 kemungkinan penyebabnya. Pertama bisa dikarenakan umur pakai cross joint pada driveshaft yang sudah mendekati akhir, atau bila ternyata kondisi cross joint dalam keadaan baik, kemungkina besar penyebabnya adalah clearance antara ring gear dan pinion gear (selanjutnya disebut ring dan pinion) sudah diluar batas toleransi karena sudah mengalami keausan. Untuk clearance ring-pinion tersebut bisa disetel dengan menggunakan shim apabila derajat keausannya belum terlalu besar. Namun apabila setelah penyetelan hal tersebut masih terdengar, itu berarti saat penggantian ring-pinion gardan belakang sudah tiba. Keausan ring dan pinion juga dapat dideteksi dari suara gemuruh yang terdengar dari arah gardan belakang.

Setelah menilik keadaan gardan belakang, kita lanjutkan dengan gardan bagian depan. Pindahkan tuas transfercase pada posisi 4H (setelah sebelumnya mengaktifkan free wheel hub untuk kendaraan yang dilengkapi alat tersebut) kemudian belokkan kemudi sampai putaran habis, lalu jalankan mobil secara perlahan. Apabila ketika mobil berjalan dalam posisi belok itu disertai dengan bunyi “klek klek klek” dari arah depan, hal tersebut ditimbulkan oleh kondisi CV (Constant Velocity) Joint as roda depan sudah tidak dalam kondisi yang baik. Pengecekan kondisi untuk gardan depan selanjutnya hampir sama dengan langkah langkah pengecekan untuk gardan belakang.

Demikian langkah langkah pemeriksaan kondisi penerus daya dari Daihatsu F50, diharapkan dengan dilakukannya step step tersebut kita bisa mendapatkan kendaraan incaran yang berkondisi siap pakai atau paling tidak kita bisa memperkirakan perbaikan apa saja yang harus kita lakukan setelah kita mendapatkan Daihatsu F50 tersebut.

Penerus Daya (Drive Train) pada Daihatsu Taft F50 (1)

 Pada kendaraan, salah faktor utama yang menentukan kesiapan dari sebuah kendaraan adalah sehatnya sistem penerus daya. Sistem penerus daya terdisi dari transmisi, gardan dan transfercase. Sistem penerus daya yang tidak dalam kondisi baik akan berakibat sebesar apapun output dari mesin tidak akan tersalur dengan baik ke roda.

Transmisi bertugas mengolah putaran yang dihasilkan oleh mesin menjadi putaran yang sesuai dengan kebutuhan untuk menggerakkan roda melalui perbandingan gigi yang terdapat di dalamnya. Secara fisik, transmisi yang ‘sehat’ dapat dilihat dari tidak adanya bekas lelehan oli pada bagian output shaft dan sambungan antara transfercase dengan transmisi. Apabila ada tumbukan kerak oli yang sudah mengering, kondisi gearbox kendaraan tersebut harus diwaspadai. Kerak oli tersebut mengindikasikan seal oli sudah dalam kondisi yang tidak baik. Seal oli yang bocor mengakibatkan volume oli transmisi dan transfercase tidak pada jumlah yang cukup, sehingga besar kemungkinan ada masalah pada transmisi dan transfercasenya, mengingat pengecekan volume oli transmisi dan transfercase tidak dapat dilakukan dengan mudah layaknya oli mesin. Apabila sering terjadi kekurangan oli maka kemungkinan besar gigi transmisi dan transfercase sudah atau mulai aus.

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kondisi transmisi dan transfercase, sangat dianjurkan untuk men-test drive kendaraan tersebut. Jalankan mobil tersebut di jalan raya, dianjurkan untuk mencari jalan yang sepi agar tidak banyak gangguan ketika men- kendaraan tersebut. Jalankan mobil tersebut di jalan raya, dianjurkan untuk mencari jalan yang sepi agar tidak banyak gangguan. Ketika mobil berjalan, perhatikan bunyi yang dikeluarkan oleh transmisi. Apabila bunyi kasar dari arah gearbox hilang ketika pedal kopling diinjak, hal tersebut normal. Sudah bawaan pabrik bahwa per yang terdapat di plat kopling jip produk Daihatsu ini hanya kuat dalam hitungan hari saja sesudah plat kopling baru dipasang. Namun hal tersebut tidak berpengaruh pada fungsi. Masukkan gigi 1, apabila terjadi kesulitan saat memasukkan tuas transmisi ke gigi 1 ada kemungkinan syncromesh sudah mengalami masalah. Jalankan mobil secara normal, pindahkan gigi pada putaran mesin normal. Untuk setiap posisi tuas transmisi perhatikan apakah terdengar suara ‘bersiul’.

Apabila timbul suara ‘bersiul’ tersebut pada posisi gigi tertetu saja, hampir pasti gigi tersebut sudah mengalami keausan. Suara bersiul itu timbul karena clearance antar gigi sudah lebih besar dari toleransi yang disyaratkan. Namun apabila suara bersiul itu timbul di setiap posisi tuas transmisi, kemungkinan keausan justru terjadi di gigi transfercase, bukan transmisi. Hal ini kerap sekali terjadi dikarenakan human error saat jadwal penggantian oli.

Tidak semua bengkel paham bahwa transfercase F50 mempunyai jalur pelumasan yang terpisah dengan transmisi. Saat penggantian oli transmisi, mekanik yang menangani pekerjaan tersebut tidak mengetahui hal tersebut hingga ia hanya mengganti oli transmisi tanpa mengganti oli transfercase. Apabila hal ini terjadi dalam jangka panjang, oli transfercase tidak mendapatkan kualitas pelumasan yang baik sehingga terjadi keausan rangkaian gigi pada piranti tersebut.

Pentingnya Tune Up Mobil Anda

Secara harfiah, tune-up berarti penyetelan. Pada kendaraan bermotor tune-up bermakna penyetelan kembali mesin kendaraan agar dapat kembali atau mendekati kondisi kerja optimum. Seperti yang sudah pernah kita singgung di tulisan sebelumnya bahwa di dalam mesin banyak sekali komponen mesin yang bergerak. Gerakan-gerakan komponen kendaraan dalam kurun waktu tertentu akan menyebabkan komponen-komponen tersebut berubah setelannya.

Langkah-langkah yang dilakukan kurang lebih sama antara mesin bensin dan mesin diesel. Untuk mesin bensin, pada mesin konvensional langkah-langkah yang dilakukan antara lain:

Penyetelan kembali sistem pengapian. Pada kendaraan yang masih menggunakan platina dan kondensor sebagai penghantar arus listrik dari koil ke busi, kondisi platina dan kondensor akan diperiksa, apabila sudah terjadi keausan, maka platina dan kondensornya akan diganti. Selanjutnya adalah pengecekan kondisi busi, apabila busi sudah berwarna hitam pada bagian bawah elektrodanya, dan elektrodanya sudah aus, maka busi harus diganti. Semua busi sebaiknya dilakukan penggantian agar kondisi pengapian tidak pincang. Setelah busi diganti, dilanjutkan dengan pengaturan derajat pengapian sesuai dengan standarnya dengan cara memutar distributor (montir kerap menyebutnya dengan delko) dengan bantuan timing light sebagai indikatornya. Apabila kendaraan kita menggunakan sistem CDI sebagai penghantar arusnya, langkah yang dilakukan cukup dengan penggantian busi dan pada kendaraan yang derajat pengapiannya masih bisa distel secara manual, sama dengan langkah diatas, dilakukan penyetelan derajat pengapian.
 
Pembersihan sistem pasokan bahan bakar. Langkah selanjutnya dari proses tune-up adalah membersihkan sistem pasokan bahan bakar. Untuk kendaraan yang masih menggunakan karburator, setelah rumah saringan udara dicopot karburator akan disemprot dengan cairan carburator cleaner. Hal yang sama juga dilakukan pada mesin dengan sistem injeksi bahan bakar elektronik, permukaan bagian dalam dari throttle body akan disemprot dengan injector cleaner.

Selain penyetelan dan pembersihan tadi, sebaiknya saat tune-up juga dibarengi dengan penggantian oli kendaraan. Oli mesin idealnya diganti secara berkala, yang intervalnya bergantung pada jenis oli yang dipakai. Saat ini rata-rata oli sintetis maupun semi sintetis menganjurkan penggantian oli setiap 5000 km hingga 10000 km. Untuk oli transmisi dan gardan (untuk kendaraan berpenggerak roda belakang) sebaiknya diganti mengikuti anjuran dari pabrikan oli masing-masing, namun rata-rata penggantian oli transmisi dan gardan berlaku pada interval 10000 km.

Sebagai tambahan, untuk mesin kendaraan yang menggunakan timing belt, ada baiknya memeriksa kondisi dari timing beltnya. Sebagai acuan umur pakai timing belt, bisa berpatokan pada informasi yang terdapat pada buku pedoman pemilik kendaraan/owners manual book. Ada kendaraan yang mensyaratkan penggantian timing belt setiap 20000 km, 40000 km bahkan 100000 km.

 
Design by My Etude | Bloggerized by suryadewa - etude |